Aplikasi Sistem Operasi

Selamat Datang di “Open Source”!

Posted on: September 24, 2008

PADA open source arah perkembangan dan nasib perangkat lunak (software) tidak hanya di tangan vendor, tetapi bisa di tangan pengguna. Inilah manifesto yang kemudian dikembangkan menjadi pergerakan software gratis di seantero dunia.

Manifesto ini secara laten dan pasti telah menggiring para pecinta teknologi informatika komputer (TIK)–yang dikuasai kalangan muda–untuk mengembangkan hal-hal baru dari software yang ditawarkan. Ini sejalan dengan konsep lisensi copyleft sebagai antitesis dari copyright yang dikeluarkan RMS sendiri selaku penggagas free open source.

Bahkan pada perkembangan selanjutnya, semangat free open source ini banyak dikembangkan komunitas-komunitas. Internet menjadi media yang mempercepat pergerakan Linux/GNU dalam “meruntuhkan” pasar yang sebelumnya dikuasai Microsoft dan kadung menjadi “otak” bagi para pengguna komputer.

Dengan semangat open mind, komunitas-komunitas ini menyebarluaskan software gratis kepada masyarakat. Mereka menyebutkan, sistem Linux lebih stabil, aman dari virus, bebas cracker, dan tentu saja gratis. Kata terakhir itulah yang menjadi “magnet” bagi tukang “ngoprek” software– yang selama ini dikartel secara monopoli oleh Microsoft–untuk membuat aplikasi-aplikasi baru.

Perkembangan kernel Linux sendiri semakin portable ke mesin/komputer. Selain x86/PC, tetapi juga ke mesin/komputer yang dibuat oleh vendor-vendor Unix seperti Sparc SUN, PowerPC IBM dan Macintosh, Alpha DEC, dan lain-lain. Berkembang juga aplikasi-aplikasi untuk kebutuhan lengkap sebuah sistem operasi.

Sistem operasi yang lengkap ini kemudian disebut sebagai distro karena saking banyaknya pribadi atau lembaga yang meramu software GNU menjadi sistem operasi yang siap pakai. Beberapa distro utama kita kenal seperti Debian, Slackware, Redhat/Fedora, Mandrake, Gentoo, dan YellowDog.

Tahun 2000-an distro Linux ini semakin berkembang sampai ke hal praktis dalam bentuk live CD, yaitu boot melalui CDROM dan Linux secara instan siap dipakai bekerja. Perkembangan lain adalah sistem embedded, yaitu menjadikan Linux sebagai sistem operasi pada hardware khusus seperti telepon selular, PDA, router, atau firewall.

Tak berhenti sampai di situ, para develover yang tergabung di komunitas-komunitas juga mengembangkan aplikasi-aplikasi baru berbasis Linux dengan tetap berpegang pada etika copyleft Linux/GNU. Mereka membuat distro-distro baru yang menyediakan berbagai layanan baru tentang Linux/GNU. Bahkan, Klub Linux Bandung (KLB) mempunyai event khusus untuk mengenalkan produk baru itu, yakni release party.

Pada event release party inilah para pecinta software saling bertemu dan menawarkan hasil temuan-temuan barunya. Dengan semangat free open source, aplikasi-aplikasi tersebut diperbanyak secara gratis. “Kalau kita mau, bisa juga sih kita jual. Tetapi, kita belum sampai ke situ. Toh, semangat awalnya juga kan komputer untuk semua kalangan,” ujar Rolly Maulana Awangga, Manager Finance KLB.

Kendati demikian, ketika user sudah semakin banyak, bisnis open source pun tak terhindarkan. Made Wiryana, dosen Universitas Gunadarma dan mahasiswa doktoral di Universitas Bielefeld Jerman, dalam tulisannya menyebutkan, telah terjadi persaingan hebat antarpengembang open source.

Hanya saja, berbeda dengan bisnis software sebelumnya, bisnis ini tidak berdiri sebagai suatu produk yang dijual. Tetapi, akan dikemas menjadi satu dengan jasa lainnya, misal jasa instalasi, kustomisasi, implementasi, pelatihan yang dikemas menjadi satu paket produk.

Misalnya, SuSE <http://www.suse.com&gt; dengan distribusinya membuka peluang untuk memperoleh projek di beberapa bank di Jerman. Saat distribusi yang dikemas SuSE ditawarkan dengan solusi terpadu, banyak pihak (terutama di Eropa yang berpusat di Jerman) memercayai SuSE untuk membangun jaringan mereka, lengkap dengan support dan pelatihan. Sebagai contoh akselerator partikel di Jerman, DESY http://www.desy.de menggunakan SuSE Linux di semua workstation yang digunakannya. Sparkasse Bank di Jerman juga memanfaatkan SuSE Linux.

Mungkin itulah sebabnya mengapa KLB sebagai komunitas mendapat banyak dukungan dari pemerintaha maupun swasta. Terutama dalam penyelenggaraan event sosialisasi gerakan software gratis di Indonesia. Bukan hal yang tidak mungkin toh, projek yang semula gratisan ini justru dapat menjadi ladang bisnis tersendiri. Seperti halnya yang sudah berkembang di negara-negara maju Eropa. (Eriyanti/”PR”)***

dikutip dari :

http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=34476

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Katalog

Info Terkini

 

Free Domain

 

.view .click .make money
%d blogger menyukai ini: