Aplikasi Sistem Operasi

Menyebarkan “Virus” Linux

Posted on: September 24, 2008

Klub Linux Bandung (KLB)
Menyebarkan “Virus” Linux

MASUK ke komunitas yang satu ini ibarat kita berada di tengah area yang dipenuhi oleh aura penuh semangat. Bukan lantaran anggotanya yang relatif masih berusia muda (mahasiswa), tetapi memang aktivitas mereka yang getol mencari hal-hal baru yang berkaitan dengan program dan sistem operasi komputer, khususnya yang berbasis open source (OS) Linux.

Sebagai bagian dari Linux User Group (LUG) yang menjalankan konsep Linux Movement, komunitas ini pun menamakan dirinya sebagai Klub Linux Bandung (KLB). Komunitas yang berdiri pada 11 Agustus 1998 ini dirintis oleh sembilan orang sukarelawan. Setelah 10 tahun berdiri, lebih kurang 150 orang terdaftar aktif menjadi anggota milis ke klub ini, sedangkan anggota yang rajin kopi darat lebih kurang 20-30 orang.

Anggota KLB adalah mahasiswa yang berminat dan punya hobi pada Linux dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Bandung. Mereka umumnya juga anggota klub Linux di kampus masing-masing. “Jadi, selain bergabung di KLB, anggota juga bergabung dengan klub Linux di kampus masing-masing,” ujar Yudha P. Sunandar, Sekretaris KLB didampingi Rolly Maulana Awangga dan Zoelhamsyah Alief.

Secara gender, KLB didominasi oleh kaum Adam. Tak heran, jika sudah bertemu kelakar khas pria bermunculan. “Sebenarnya ada juga anggota cewek. Namun, mereka bergabung di klub Linux khusus perempuan yang disebut Kluwek,” ujar Yudha menambahkan.

Sebenarnya, menurut Yudha, KLB tidak membeda-bedakan gender. Siapa pun yang berminat dan hobi mengutak-atik Linux bisa bergabung. Selain sebagai media komunikasi, klub juga berfungsi sebagai organisasi yang memperkenalkan, mempromosikan, mendukung, serta membantu pengguna sistem operasi Linux. Mengingat Linux merupakan sistem operasi yang terbuka dan baru. “Sejak awal, sistem operasi Linux sangat terbuka dan siapa pun dapat mengembangkannya. Makanya, penataan klub tidak kaku seperti organisasi-organisasi yang lain,” ujar Yudha.

Karena tidak punya sekretariat tetap, pertemuan rutin digelar di mana saja. Bisa di kafe, tempat makan, atau area nongkrong anak muda seperti Common Room, dan banyak tempat lainnya. Mereka pun belum mempunyai kartu dan iuran anggota yang mengikat. “Ke depan, hal ini memang harus kita pikirkan. Namun, tidak kemudian menjadikan klub harus kaku dan formal. Sebab, klub hanya sebagai komunitas hobi yang bersifat sangat mobile. Kita bisa bertemu dan ngumpul di mana saja, yang penting ada yang bisa kita saling share,” ujar Zoelhamsyah.

KLB bertujuan memperkenalkan Linux sebagai sistem operasi alternatif di komputer PC, terutama untuk yang sudah bosan dengan sistem operasi yang tertutup. Itulah sebabnya, makin sering anggota klub ngoprek, makin banyak ditemukan hal-hal baru dari sistem berbasis Linux. “Pendek kata, KLB ingin memperkuat kembali gerakan penyebarluasan penggunaan free software, open source, dan Linux di negeri ini,” ujar Yudha.

Skala internasional

Kendati KLB terkesan sangat santai dan fleksibel, tidak demikian halnya dengan kegiatan. Ada dua jenis kegiatan yang biasa digelar klub yaitu rutin dan nonrutin. Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap bulan merupakan forum pertemuan resmi organisasi. Forum ini pula yang digunakan untuk membicarakan teknologi Linux secara umum. Kegiatan rutin lainnya adalah bengkel kerja. Kegiatan ini diselenggarakan berdasarkan minat individu yang dilakukan secara bersama-sama dalam jangka waktu tertentu.

Sementara itu, kegitan nonrutin, antara lain festival instalasi, demonstrasi aplikasi, pameran, dan seminar. Festival instalasi berupa kegiatan instalasi Linux untuk umum yang dilakukan secara berkala, tetapi tidak rutin bergantung pada jumlah peminat. Kegiatan demontrasi aplikasi berupa kegiatan yang dilakukan untuk memeragakan aplikasi Linux baru ataupun lama. Kegiatan ini dilakukan anggota yang menggunakan aplikasi tersebut.

Untuk kegiatan pameran, biasanya diisi dengan berbagai peragaan Linux untuk umum yang dilakukan bersamaan dengan pameran komputer atau pameran sendiri. Sementara itu, seminar digelar lebih sebagai sarana promosi serta pengenalan Linux kepada individu ataupun masyarakat luas.

Yang sangat luar biasa, KLB pernah mendatangkan penggagas Linux Richard M. Stallman ke Bandung. Pada kesempatan itu, sang penggagas Linux berbicara tentang past, present, and future di ITB. “Kalau mau disebut skala internasional, mungkin bisa juga. Tapi kita sih ngerasa agenda ini bagian dari menyebarluaskan Linux kepada masyarakat,” ujar Yudha.

Selain dua jenis kegiatan tadi, KLB juga menyusun projek-projek klub. Projek-projek klub merupakan kontribusi klub untuk masyarakat pengguna Linux maupun masyarakat umum. Projek-projek tersebut antara lain, pelatihan Linux untuk umum, dukungan teknis untuk umum bekerja sama dengan perusahaan penyedia perangkat keras dan perusahaan jasa dukungan teknis. Selain itu, ada juga penjualan CD Linux untuk area Bandung dan sekitarnya, riset pemanfaatan maupun pengembangan Linux, dan kerja sama dengan badan-badan terkait dalam rangka memopulerkan Linux sebagai sistem operasi yang murah dan andal.

Menurut Yudha, KLB juag bersinergi dengan berbagai organisasi sejenis. Dalam skala lokal Bandung, KLB berjejaring dengan klub-klub Linux yang ada di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta. Sementara itu untuk skala nasional, KLB menjalin hubungan dengan Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) yang merupakan induk dari klub-klub yang terdapat di beberapa kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bali. Klub-klub ini mengadakan konferensi dan pertemuan seluruh anggota.

Konferensi pertama diselenggarakan di Bali dengan topik merancang hubungan antarklub, mengoptimalkan kerja sama antarklub, dan mencari berbagai peluang yang mungkin dikembangkan dari pencarian terhadap sistem-sistem yang ditawarkan Linux. “Di konferensi itu, kita bisa bertemu dengan para pencinta Linux se-Indonesia dan memilih ketua KPLI,” tutur Yudha.

Dengan semua jejaring ini, kata Yudha, KLB menerima, menyalurkan, dan memberikan dukungan dan bantuan kepada para pengguna Linux di Indonesia atau di luar negeri. KLB juga mempererat hubungan antarpemakai Linux di Indonesia dan merangsang masyarakat Linux yang juga merupakan masyarakat internet Indonesia untuk turut berperan aktif di dunia Internet.

Yang membanggakan, KLB sudah mendapat dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak terkait teknologi informatika komputer. Dukungan mengalir dari Mensristek, Menkominfo, PT Telkom, IGOS, Ubuntu, dan berbagai perguruan tinggi negeri/swasta lainnya yang mengembangkan Linux di institusi tersebut. Malah sejak 2004 seluruh klub yang berada di bawah KPLI dipercaya menyukseskan program “Indonesian Global Source”. Selain itu, bersama Depkominfo terlibat dalam program “Indonesia ICT Award 2008” atau INAICTA 2008.

Menurut Manager Finance KLB, Rolly Maulana Awangga, meskipun organisasi tidak memungut iuran rutin anggota, selalu saja ada dana bantuan. Baik dari perseorangan, kelompok, maupun lembaga pemerintahan dan swasta. “Alhamdulillah, setiap kegiatan selalu masih bisa kita atasi. Karena banyak pihak yang mendukung kegiatan kita,” ujar Yudha dengan nada semangat. Mau bergabung? (Eriyanti/”PR”)***

dikutip dari :

http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=34477

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Katalog

Info Terkini

 

Free Domain

 

.view .click .make money
%d blogger menyukai ini: